Sabtu, 22 Mei 2021

Persatuan Islam dan Kesuastraan Islam di Indonesia

 

Aldy Istanzia Wiguna

(tulisan ini telah dimuat dalam buku Dinamika Intelektual Pemuda Persis)

Muqaddimah

Dakwah menurut bahasa diambil dari isim masdar (kata benda) dari kata da’a, yad’u, yang berarti panggilan, seruan, atau ajakan. Sedangkan menurut istilah dakwah adalah kegiatan yang bersifat menyeru, mengajak, dan memanggil orang beriman agar senantiasa tunduk dan patuh pada perintah Allah serta menjauhi larangan-Nya serta tetap dalam koridor akidah, syari’at dan akhlaq Islam.

Selain itu, dakwah memiliki tujuan untuk mewujudkan kebahagiaan serta kesejahteraan hidup di dunia dan akhirat yang diridhai Allah. Dakwah dilaksaakan oleh Nabi SAW dengan berbagai macam cara, diantaranya melalui lisan, tulisan dan perbuatan. Sasaran utama dakwah yang memiliki makna ajakan pada mulanya ditujukan kepada keluarganya, sahabatnya, hingga kaum musyrikin Quraisy bahkan sampai kepada para penguasa seperti kaisar Heraklius dari Byzantium, Mukaukis dari Mesir, Kisra dari Persia, dan Raja Najasyi dari Habasyah melalui surat yang dikirimkan beliau ketika syiar Islam telah menyebar di masa tersebut. Dan di masa itu dakwah Nabi Muhammad SAW dibagi ke dalam beberapa fase dimulai dari fase sembunyi-sembunyi sampai terbuka. Dakwah Nabi SAW di kota Mekkah pun terbilang cukup lama yakni sampai 22 tahun lebih, sementara dakwah beliau di kota Madinah hanya sampai 2 ½ tahun, tapi mampu menjadi kekuatan Islam di kemudian hari. Ini membuktikan bahwa dakwah tidak hanya memerlukan tenaga tapi juga waktu yang cukup lama.

Dalam dakwah ini, segala daya dan upaya dikerahkan tersebab dakwah merupakan kewajiban yang mesti dilaksanakan dan dilakukan setiap individu kaum muslimin demi tersebarnya syiar dan tegaknya syari’at Islam di muka bumi. Menurut Mohammad Natsir dalam bukunya Fiqhud Dakwah menjelaskan bahwasannya, dakwah dalam arti amar ma’ruf nahyi munkar adalah syarat mutlak bagi kesempurnaan dan keselamatan hidup masyarakat. Ini adalah kewajiban sebagai pembawaan fitrah manusia selaku social beeing (makhluk ijtima’i); dan kewajiban yang ditegaskan oleh risalah: oleh kitabullah dan sunnah Rasulullah. Bukan monopoli golongan yang disebut ulama atau cerdik cendekiawan.

Tetapi dalam perjalanannya dengan tidak mengurangi dakwah (amar ma’ruf dan nahyi mungkar) yang harus dijalankan oleh orang seorang, maka mengadakan golongan pembawa dakwah yang khusus ini, melengkapkan segala sesuatu yang dihajatkan untuk melancarkan jalan tugas seperti pembinaan umat dan memelihara keselamatan umat, adalah suatu kewajiban yang dipikul oleh tiap-tiap muslim dan muslimah. Dengan lain perkataan, pelaksanaan pekerjaan dakwah ini bisa diserahkan kepada suatu korps para ahli, tapi beban untuk menyelenggarakannya wajib dipikul oleh seluruh anggota masyarakat Islam baik laki-laki maupun wanita dengan harta, tenaga dan fikiran.

Dakwah merupakan fardhu ‘ain atau satu kewajiban yang tidak seorang muslim atau muslimah pun yang dapat berlepas diri daripadanya. Dimana dakwah tak hanya memerlukan sumbangan tenaga dan pikiran, tetapi memerlukan pula sumbangan harta, banyak atau sedikitnya, maka itu bukanlah soal kedermawanan, bukan soal derma-derma yang harus diminta dimohon-mohonkan supaya berkenan memberinya. Ini bukan fardhu kifayah seperti kewajiban ibadah menyembahyangkan mayat, tidak usah dikerjakan oleh semua anggota jama’ah, cukup diselenggarakan kalau perlu satu orang saja, untuk semua. Sebab dakwah ini artinya menunaikan amanah Rasul, melanjutkan risalah dengan dakwah. Hanya secara demikian, kalau hendak sama-sama berhak atas kedudukan: sebaik-baik umat yang dilahirkan untuk kemaslahatan manusia, yang mengajak kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran, dan beriman kepada Allah. Itu!

Dari paparan ringkas di atas, selain merupakan fardhu ain bagi seluruh kaum muslimin dan memerlukan pengorbanan seperti tenaga, harta dan pikiran. Dakwah pun dapat dilakukan dengan berbagai macam cara seperti dakwah bil hal, dakwah bil lisan dan dakwah bil kitabah. Lantas bagaimanakah dakwah Persatuan Islam dilihat dari sudut pandang pemikiran Islam di Indonesia yang beragam? Bagaimana pula metode dakwah para alim ulama Persatuan Islam dalam merespon keberagaman pemikiran Islam tersebut?

 

Persatuan Islam dan Dakwah Islam di Indonesia

Persatuan Islam merupakan organisasi massa Islam yang didirikan di Bandung pada tanggal 12 September 1923. Organisasi massa Islam ini didirikan atas inisiasi dua orang saudagar bernama Haji Zamzam dan Haji Muhammad Yunus. Bermula dari acara kenduri dan diskusi keagamaan yang sering diadakan keduanya, kemudian berkembang menjadi ormas besar sampai hari ini. Kehadiran Persatuan Islam pada saat itu menjadi titik tolak tentang hadirnya organisasi modernis yang fokus dalam menyikapi problematika umat diantaranya dalam rangka memberantas bid’ah, khurafat dan takhayul serta taqlid yang merebak di tengah-tengah gencarnya penjajahan yang dilakukan oleh kolonialis Belanda.

Dakwah Persis pada masa awal pendirian ditempuh dengan jalan diskusi keagamaan yang bertempat di rumah H. Zamzam dalam acara kenduri. Lalu ketika A. Hassan masuk menjadi bagian dari Persis sekitar tahun 1926, arah dakwah Persis mulai diarahkan kepada perdebatan yang biasanya dilakukan secara terbuka baik secara langsung maupun melalui media cetak. Seperti perdebatan dengan Ahmadiyyah, perdebatan dengan atheis, perdebatan dengan Nahdlatul Ulama, perdebatan dengan Permi, perdebatan dengan Soekarno, bahkan perdebatan dengan kalangan non muslim seperti Kristen Advent.

Dalam perdebatan yang dilangsungkan secara terbuka biasanya dihadiri sampai 500 orang. Perdebatan yang dilakukan Persis pada masa itu biasanya selalu memancing kepenasaran orang-orang luar untuk menyaksikannya. Bahkan ketika A. Hassan melakukan perdebatan secara terbuka dengan perwakilan Ahmadiyyah dilaksanakan sampai tiga hari berturut-turut dihadiri ratusan orang bahkan sampai diliput beberapa media masa pada saat itu salah satunya majalah Fikiran Rakjat. Selain melalui perdebatan secara langsung. Ada juga perdebatan yang dilakukan melalui media masa seperti saat Komite Pembela Islam mendebat seorang pendeta yang menghina Islam dan Nabi Muhammad melalui majalah Pembela Islam juga polemik panjang antara A. Hassan dengan Soekarno lewat surat-suratnya. Serta perdebatan antara A. Hassan dan Buya Hamka yang berlangsung hampir berbulan-bulan lamanya. Bahkan A. Hassan sampai menulis satu nomor khusus di majalah Al-Lisaan dengan judul Pengajaran Bahasa Arab untuk Buya Hamka. Bahkan untuk nomor itu, majalahnya dibagikan secara gratis kepada masyarakat.

Selain melalui media penerbitan. Dakwah Persis pun dilakukan melalui media pendidikan. Hal itu bisa dibuktikan dengan pendirian Pendidikan Islam (Pendis) oleh Mohammad Natsir yang merupakan cikal bakal berdirinya Pesantren Persatuan Islam yang sampai hari ini jumlahnya kurang lebih ratusan pesantren yang tersebar di Jawa Barat, DKI Jakarta, Banten dan Bangil, Jawa Timur.

Media penerbitan dan publikasi pun tak lupa dijadikan sebagai salah satu sarana dakwah Persis seperti diterbitkannya majalah Pembela Islam, Aliran Islam, Al-Lisan, At-Taqwa, Lasykar Islam (kelanjutan dari majalah Pembela Islam yang dibredel Belanda), Al-Fatwa, serta majalah Al-Muslimun yang diterbitkan A. Hassan dari Bangil. Selain melalui media masa seperti majalah. Persis juga memanfaatkan media penerbitan buku-buku para ulama Persis yang terkenal produktif di masa itu seperti A. Hassan dengan hampir 83 bukunya dimana beberapa bukunya termasuk yang sangat dikenal bahkan masih dijadikan rujukan umat sampai hari ini seperti Soal Djawab jilid 1-4, Pengajaran Shalat, Tafsir Al-Furqan, Islam dan Kebangsaan, ABC Politik, Perempuan di Podium serta karya-karya lainnya. Bahkan A. Hassan tercatat pernah menerbitkan satu kumpulan puisi yang berjudul Syair serta 4 jilid buku humor yang dijudulinya Tertawa. Ulama Persis lainnya yang terkenal produktif pada masa itu selain A. Hassan adalah Mohammad Natsir yang aktif menulis artikel-artikel juga beberapa buku diantaranya Capita Selecta sebanyak tiga jilid. Fiqih Dakwah, dan Kebudayaan Islam. Ada pula Isa Anshary yang tercatat menulis tulisan sebanyak 63 buku diantaranya ada Mujahid Dakwah, Falsafah Perdjuangan Islam, Umat Islam Menghadapi Pemilihan Umum, Manifesto Perjuangan Persis, Bahaja Merah di Indonesia, dan lain-lain.

Sastra dan Dakwah Islam di Indonesia

Sastra merupakan kata serapan dari bahasa Sansekerta yang bermakna teks yang mengandung instruksi atau ajaran. Dalam bahasa Indonesia kata sastra sering digunakan atau diejawantahkan menjadi kesusastraan yang memiliki makna jenis tulisan yang memiliki arti atau keindahan tertentu. Selain itu dalam arti kesusastraan, sastra dibagi menjadi sastra tertulis atau sastra lisan (sastra oral). Di sini, sastra tidak banyak berhubungan dengan tulisan, tetapi dengan bahasa yang dijadikan wahana untuk mengekspresikan pengalaman atau pemikiran tertentu.

Kehadiran sastra di Indonesia sudah tampak sejak abad ke 19 ditandai dengan hadirnya sastra berbahasa Melayu yang ditulis oleh orang-orang yang berasal dari kepulauan Riau atau Sumatera. Juga bahasa yang dipergunakannya disebut sebagai bahasa Melayu yang murni atau bersih. Bahasa Melayu yang dipergunakan oleh para pengarang itu bukanlah bahasa Melayu Tinggi melainkan bahasa Melayu Rendah atau bahasa Melayu Pasar. Tak hanya berkembang di tanah Melayu, sastra pun berkembang sampai ke penjuru Nusantara lainnya hingga kemudian dikenal dengan adanya kesusastraan Jawa, Sunda, Bali, Aceh, Bugis dan lain-lain.

Sastra dikenal sebagai media dakwah mulai hadir sejak tampilnya kerajaan-kerajaan Islam di Nusantara. Bahkan para penyebar Islam seperti walisongo pun ada yang menggunakan sastra sebagai media dakwahnya. Dalam Perang Aceh yang dikenang dengan kegemilangannya pun terdapat karya sastra yang turut membangun semangat serta ghirah para mujahidin Aceh untuk berperang melawan tirani kolonialis Belanda. Salah satu karya sastra yang menjadi bacaan wajib pembangkit ghirah perjuangan itu adalah Hikayat Prang Sabi buah pena Teungku Chik Pante Kulu. Selain itu, sastra Islam pun berkembang mengikuti arus perubahan zaman. Dari angkatan Balai Pustaka kita mengenal nama seperti Buya Hamka yang dikenal dengan romannya seperti Di Bawah Lindungan Ka’bah dan Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck. Lalu beberapa nama lainnya dalam beberapa periodisasi sastra seperti JE Tatengkeng, AA Navis yang turut menghiasi panggung sastra Islam Nusantara. Di era 2000-an muncul pula nama-nama seperti Helvy Tiana Rossa, Habiburrahman El-Shirazy, Asma Nadia, dan beberapa nama lainnya menambah semarak rangkaian panggung sastra Nusantara. Bahkan kehadiran Forum Lingkar Pena yang diinisiasi kakak beradik Helvy Tiana Rossa dan Asma Nadia menambah semarak perkembangan sastra Islam di Indonesia. Penyair senior Taufiq Ismail bahkan sampai mengatakan bahwa kehadiran Forum Lingkar Pena merupakan hadiah dari Allah untuk Indonesia.

Kehadiran sastra sebagai media dakwah yang cukup efektif di Nusantara pun hadir dalam berbagai bentuk gagasan serta konsepsi. Salah satunya adalah gagasan sastra profetik yang digagas oleh Prof Dr Kuntowijoyo, salah satu sastrawan, budayawan dan sejarawan terkemuka di Indonesia. Menurut Kuntowijoyo yang dimaksud dengan sastra profetik adalah sastra yang dibentuk berdasarkan atau untuk tujuan mengungkapkan prinsip-prinsip kenabian atau wahyu. Konsepsi ini diejawantahkan Kuntowijoyo dalam sejumlah karya sastranya seperti Makrifat Daun, Daun Makrifat, Khotbah di Atas Bukit, Pasar, Dilarang Mencintai Bunga-Bunga, Persekongkolan Ahli Makrifat dan sejumlah karya lainnya yang menunjukkan betapa nilai-nilai ilahiah di dalam karya tersebut seolah mengajak manusia untuk kembali kepada titik transendental-nya yakni Allah hingga kemudian muncul sebuah adagium bahwasannya menulis sastra adalah bagian dari ibadah.

 

Akar Sastra dalam Dakwah Persatuan Islam

Dakwah Persatuan Islam tidak hanya didominasi oleh perdebatan-perdebatan saja. Melainkan menyentuh pula dakwah budaya. Hal ini terlihat dari hadirnya beberapa sajak yang dipublikasikan di majalah Pembela Islam yang merupakan majalah tertua di Persatuan Islam. Sajak pertama yang dipublikasikan di majalah tersebut berjudul ‘Sadarlah’ yang ditulis seorang penulis bernama Nasbiroe. Sebuah sajak yang menyeru kepada sekalian kaum muslimin di Nusantara untuk bersikap terhadap persoalan agama yang saat itu dilecehkan oleh kaum sekuler melalui media massanya yakni Djawa Hisworo.

Selain itu, masih di majalah Pembela Islam pula ditemukan sajak yang ditulis oleh Buya Hamka dalam rangka mengenang perjuangan seorang Umar Mukhtar, pejuang muslim dari Afrika. Selain sajak, pada tahun 1930-an pula terbit roman perdana bapak Mohammad Natsir yang berjudul ‘Salah Jalan’ dan di tahun 1950-an, Pak Natsir bersama Pak Nasroen AS menulis pula sebuah roman yang berjudul ‘Hidup Bahagia’ yang diterbitkan tahun 1954 oleh Penerbit Van Hope, Bandung.

Lalu sekitar tahun 1950-an guru utama Persatuan Islam yakni Ahmad Hassan menerbitkan kumpulan sajaknya sebanyak dua jilid yang diberi judul ‘Sjair’ dan kumpulan pepatahnya yang dipublikasikan melalui majalah Pembela Islam dengan judul ‘Kitab Pepatah’ sebanyak dua jilid. Selain menulis Sjair, Ahmad Hassan pun tercatat menulis kumpulan cerita pendek yang diberi judul Tertawa sebanyak empat jilid dan kumpulan nasihat sebanyak 4 jilid pula yang diberi judul Hai Puteraku, Hai Puteriku, Hai Cucuku, dan Hai Anakku.

Tak hanya di majalah Pembela Islam saja kita dapat melihat atau membaca karya-karya sastra yang ditulis para ulama Persatuan Islam. Di majalah seperti Risalah pun kita bisa membaca satu naskah drama berjudul ‘Biar Aku Mati, Asal Islam Tetap Hidup’. Belum lagi cerita-cerita pendek yang ditulis ustadz Utsman Sholehuddin di majalah seperti Al-Qudwah, Dhuha, dan sebagainya.

Bahkan di tahun-tahun awal eksistensi dakwahnya, Persatuan Islam telah membuat sebuah rumusan terkait konsepsi dakwah melalui kebudayaan. Hal ini dirumuskan pertama kali oleh KH M Isa Anshary yang mana rumusan tersebut kemudian disempurnakan oleh Pak Natsir dalam bukunya yang berjudul ‘Capita Selecta’ di jilid pertama. Belum lagi konsep-konsep kebudayaan dan dakwah yang ditulis oleh Pak Natsir dan dihimpun di dalam buku ‘Kebudayaan Islam’ terbitan Girimukti Pasaka.

Bila kita melihat sekilas perjalanan sejarah di atas, tentu menarik bila disimpulkan bahwa dakwah melalui kebudayaan khususnya sastra telah mengakar kuat dalam perjalanan sejarah Persatuan Islam.

 

Sastra Dalam Karya Intelektual Ulama Persatuan Islam

Dalam perjalanan panjang dakwah Persatuan Islam yang membentang hampir sembilan puluh delapan tahun dari awal berdiri sampai hari ini, para ulama Persatuan Islam tak pernah kehilangan daya serta upaya dalam rangka mengemban tugas dakwah menyebarkan Qur’an Sunnah ke seluruh penjuru Nusantara. Hal ini ditandai pula dengan tersebarnya pimpinan wilayah di beberapa provinsi di luar Jawa Barat. Tak hanya jumlah pimpinan yang bertambah. Ragam khazanah intelektual khususnya dalam bidang tulis menulis pun menambah semarak dakwah Persatuan Islam di pentas republik. Hampir setiap bidang dakwah dan pendidikan dilakoni oleh ulama Persatuan Islam mulai dari bidang hukum, politik, sosial, pendidikan, dakwah, dan sebagainya.

Hal ini ditandai dengan hadirnya beragam khazanah intelektual baik yang ditulis di media massa maupun dalam buku-buku. Seperti tulisan-tulisan A Hassan, Isa Anshary, M Natsir, E Abdurrahman sampai generasi mutakhirnya. Tak hanya dalam bidang-bidang di atas saja, kepiawaian berdakwah para ulama Persatuan Islam hadir. Dalam bidang budaya pun terkhusus sastra, mereka cukup piawai dalam berdakwah Qur’an Sunnah. Kurang lebih ada sekitar 21 karya tulis dalam bidang sastra yang disusun para alim ulama Persatuan Islam dengan catatan ada sekitar 9 buku puisi, 10 buku prosa, 1 naskah drama, dan 1 teori sastra. Jumlah ini belum termasuk sejumlah tulisan yang tersebar di majalah-majalah resmi jam’iyyah Persatuan Islam atau yang dikelola oleh kader dimulai dari majalah Pembela Islam, Risalah, Qudwah dan Dhuha.

Jika dirinci berdasarkan para penulisnya, maka nama A Hassan bisa ditulis sebagai penulis karya sastra terbanyak sebanyak enam judul yang terdiri dari Hai Puteraku[1] sebanyak empat jilid, lalu Syair dan terakhir Pepatah. Di urutan kedua ada M Syarief Sukandi yang menulis sebanyak 5 karya diantaranya, Pangaweruh Atikan, Pangusap Rasa, Tembang jeung Kawih, Fantomim Sunda, dan Hariring Wangsiting Gusti Nu Maha Suci. Berikutnya ada E Abdullah yang menulis kurang lebih sekitar tiga buku sastra seperti Tauhid, Tahlil dan Ceritera Bu Idah. Di urutan berikutnya ada Mohammad Natsir yang menulis roman Hidup Bahagia bersama Nasroen AS, Tamar Djaja yang menulis roman Tersesat, Emzita yang menulis Imbauan Ka’bah, Utsman Sholehuddin yang menulis Saur Mama, Endang Saifuddin Anshari yang menulis Cahaya di Atas Cahaya. Rudi Rusyana yang menulis Sang Marginalis dan terakhir Udo Yamin Majdi yang menulis Bara Musa di Taman Terpasung.

 

Khatimah

Menarik jika kemudian ragam kekayaan khazanah intelektual ini bisa terus digali dan dikembangkan dalam kerangka menopang dakwah Persatuan Islam ke depannya. Terlebih jika Persatuan Islam memberikan kesempatan kepada generasi pelanjutnya baik di Pemuda, Pemudi, HIMA, HIMI, IPP dan IPPi untuk terus mengembangkan bakat serta keberadaannya apalagi difasilitasi untuk terus mengaktualisasikan diri dan dakwahnya dalam bidang-bidang yang pernah diisi oleh para pendahulunya. Kehadiran komunitas-komunitas kepenulisan di lingkungan jam’iyyah Persatuan Islam seperti Madrasah Pena (Pameungpeuk), Pena Rahayu Kreatif (Margaasih), Sesajen (Tasikmalaya) dan sejumlah komunitas lainnya bisa turut menguatkan dakwah Persatuan Islam ke depannya. Hal ini bisa dimaksimalkan asalkan ada kemauan dari berbagai pihak khususnya Persatuan Islam dan otonomnya.

Bahkan bila dipandang perlu untuk pengembangan dakwah ke depannya, rasa-rasanya cukup memungkinkan jika Persatuan Islam membentuk satu lembaga khusus untuk mengisi ruang dakwah kebudayaan sebagaimana Lembaga Seniman Budayawan Muslimin Indonesia (LESBUMI) yang dimiliki Nahdlatul Ulama, Lembaga Seni Budaya dan Olahraga (LSBO) yang dimiliki oleh Muhammadiyah. Hingga ke depannya diharapkan dakwah Qur’an Sunnah ala Persatuan Islam bisa membumi serta mengakar dalam kehidupan masyarakat Indonesia khususnya dan dunia internasional pada umumnya. Wallahu a’lam bish shawwab.****

 

Bahan Bacaan :

·         Howard M Federspiel, Labirin Ideologi Muslim, Jakarta: Serambi, 2004

·         Mohammad Natsir, Fiqhud Dakwah, Jakarta: Dewan Dakwah Islamiyyah Indonesia, 1977.

·         Ajip Rosidi, Ikhtisar Sejarah Sastera Indonesia, Bandung: Pustaka Jaya, 2013.



[1] Jumlah ini didasarkan kepada dokumen atau karya sastra yang dihimpun Pesantren Sastra.

Selasa, 17 September 2019

Persatuan Islam Dalam Peta Sastra Indonesia


 Aldy Istanzia Wiguna


PERSATUAN ISLAM DAN BAHASA INDONESIA

Dalam perjalanan usianya yang nyaris mencapai satu abad ini. Persatuan Islam telah memberikan banyak kontribusi dalam perjalanan sejarah republik. Salah satu yang terkenang dan sering terluputkan adalah kontribusi Persatuan Islam dalam bidang bahasa khususnya dalam penggunaan bahasa Indonesia (bahasa Melayu) pada medio awal kehadirannya.

Hal ini terungkap dari bahasa yang dipilih para founding father Persis pada tahun 1923 ketika pertama kali mendirikan Persis. Dimana para founding father ini justru memberi nama organisasi yang didirikannya dengan menggunakan bahasa Melayu bukan dengan bahasa Arab seperti Muhammadiyah, Nahdlatul Ulama, Sarekat Islam, Jam’iyyatul Khair, Al-Irsyad, Mathlaul Anwar dll.

SASTRA DALAM RAHIM PERSATUAN ISLAM

Bila menilik pada perjalanan intelektualnya. Dakwah Persatuan Islam tidak hanya didominasi oleh perdebatan-perdebatan saja. Melainkan menyentuh pula dakwah budaya. Hal ini terlihat dari hadirnya beberapa sajak yang dipublikasikan di majalah Pembela Islam yang merupakan majalah tertua di Persatuan Islam. Sajak pertama yang dipublikasikan di majalah tersebut berjudul ‘Sadarlah’ yang ditulis seorang penulis bernama Nasbiroe. Sebuah sajak yang menyeru kepada sekalian kaum muslimin di Nusantara untuk bersikap terhadap persoalan agama yang saat itu dilecehkan oleh kaum sekuler melalui media massanya yakni Djawa Hisworo.

Selain itu, masih di majalah Pembela Islam pula ditemukan sajak yang ditulis oleh Buya Hamka dalam rangka mengenang perjuangan seorang Umar Mukhtar, pejuang muslim dari Afrika.

Selain sajak, pada tahun 1930-an pula terbit roman perdana bapak Mohammad Natsir yang berjudul ‘Salah Jalan’.

Lalu sekitar tahun 1950-an guru utama Persatuan Islam yakni Ahmad Hassan menerbitkan kumpulan sajaknya sebanyak dua jilid yang diberi judul ‘Sjair’ dan kumpulan pepatahnya yang dipublikasikan melalui majalah Pembela Islam dengan judul ‘Kitab Pepatah’ sebanyak dua jilid. Selain menulis Sjair, Ahmad Hassan pun tercatat menulis kumpulan cerita pendek yang diberi judul Tertawa sebanyak empat jilid dan kumpulan nasihat sebanyak 4 jilid pula yang diberi judul Hai Puteraku, Hai Puteriku, Hai Cucuku, dan Hai Anakku.

Selain itu, konsepsi dakwah melalui kebudayaan di Persatuan Islam rupanya telah dirumuskan oleh KH M Isa Anshary yang mana rumusan tersebut disempurnakan oleh Pak Natsir dalam bukunya yang berjudul ‘Capita Selecta’.

Melihat sekilas perjalanan sejarah tersebut menarik bila disimpulkan bahwa dakwah melalui kebudayaan khususnya sastra telah mengakar kuat dalam perjalanan sejarah Persatuan Islam.

GENEALOGI ULAMA BUDAYAWAN PERSIS

Bila ditelusuri lebih jauh, untuk genealogi ulama budayawan di Persatuan Islam bermuara pada dua titik yakni genealogi Bandung yang diwakili oleh Ust Abdurrahman dan genealogi Bangil yang diwakili oleh Ust Abdul Qadir Hassan. Kedua genealogi ini tersambung secara langsung kepada Ahmad Hassan sebagai guru utama. Dari kedua sosok ini, lahirlah banyak ulama dan intelektual Persatuan Islam yang menyusun karya budaya baik karya sastra maupun karya lainnya. Adapun dari genealogi Bandung atau murid-murid Ustadz Abdurrahman yang tercatat menulis karya sastra adalah E Abdullah, E Saifuddin Anshary (putera Pak Isa Anshary), Maman Nurzaman Romly, Utsman Sholehuddin, Suraedi, Syarief Sukandy, Wawan Shafwan Sholehuddin, Enung Nurhayati dan Rudi Rusyana. Adapun dari genealogi Bangil atau murid-murid Ust Abdul Qadir Hassan yang menulis karya sastra antara lain Abidah El Khalieqy dan Ahmad David Khalilurrahman.

Genealogi Ulama Budayawan Persatuan Islam

Selasa, 08 Januari 2019

KH. Muhammad Syarief Sukandi, Kiai Tentara yang Cinta Seni Sunda

H. Yusuf Badri, M.Ag

salah satu karya KH Muhammad Syarief Sukandy
Kiai Muhammad Syarief Sukandi dikenal sebagai muballigh tentara, karena beliau bertugas di ketentraan. Kadang-kadang, ketika berceramah pun memakai baju dinas. “Bukan sombong, tetapi habis dinas, tidak pulang dulu kerumah, terus ngaji,” katanya suatu ketika. Ustadz Andi, begitu beliau dipanggil di lingkungan Persis, dikenal pula sebagai pengarang. Karya tulisnya meliputi bidang keagamaan, untuk umum atau untuk pelajaran di sekolah, seperti fiqh Islam (bahasa sunda), juga terjemah hadits Arba’in, hadits kuluhan Budi (bahasa Sunda), obor, Tauhid, Laki Rabi (bahasa Sunda). Khusus bagi TNI yang akan bertugas ke Timur Tengah, sebagai bekal, beliau menyusun pelajaran Tulis/Baca huruf Arab sistem enam jam. Sementara di Markas TNI dikjenal dengan panggilan Pak Syarief. Mungkin merupakan keistimewaan baginya bahwa dari mulai bawahan sampai atasan selalu memanggil Pak Syarief. Kata-kata “Pak” di depan Syarief tidak dihilangkan walaupun oleh atasannya.

Karya tulis lainnya dimuat di majalah, misalnya tentang seni, naskah Sempalan Padalangan yang dihimpun oleh Padalangan “Pamager Sari” pimpinan R.U. Partasuanda (alm). Tidak ketinggalan mencintai lagu, Dakwah Kawih, Sifat Dua Puluh, Syukur Nikmat yang dinyayikan oleh Cicih Cangkurileung. Kasetnya beredar terutama di daerah Jawa Barat. Kiai yang memncintai seni ini mengarang pula novel Sunda, seperti Nu Geulis Jadi werejit, perlaya di Tegal Karbala yang kemudian novelnya dimuat secara bersambung di hari8) harian Bandung Pos. Selanjutnya melalui Kodam mencipta lagu Al-Qur’an irama sunda yang kemudian ditangani Menteri Agama (ketika itu Prof.Dr. Mukti Ali), tetapi tidak ada kelanjutannya.

KH. Muh. Syarief Sukanndi adalah putra tuunggal pasangan suami istri Yaya atmajaya (seorang perintis kemerdekaan) dan Engkik Rodiyah, dilahirkan di Garut, 7 April 1931. Pendidikannya banyak dijalani di Bandung. Pada usia tujuh tahun (1938) sekolah di Holland Inlandse School (HIS) setingkat SD sambil mesantren di pesantren cikuya, cicalengka dibawah asungan Ajengan Toha. Namun di HIS tidak sampai tamat, karena ketika itu perang berkecamuk, sedangkan mesantrennya berlangsung sampuan sampai tahun 1945. Selama 6 tahun pendidikannya terhenti, karena ketika itu para pemuda diwajibkan masuk laskar TNI hingga tahun 1951.

Setelah 6 tahun di laskar TNI, baru pendidikannya dilanjutkan lagi di Pesantren Persatuan Islam (Pesantren Persis), jl. Pajagalan, Bandung tingkat Tsanawiyah (SLP) lulus tahun 1954. Tahun1962 tamat MuallimIin, setingkat SLA di Pesantren yang sama, dan tahun 1967 lulus Sarjana Muda dari Institut Islam Siliwangi (INISI). Sepuluh tahun berikutnya (1977) lulus Sarjana (S1) dan Fakultas Ussuluddin jurusan Dakwah IAIN Sunan Gunung Djati Bandung. Pendidikannya tersendat karena dirintis sambil bertugas di tentara.

Sejak tahun 1951 beliau aktif mengajar agama. Sampai 1966 menjadi guru di Tamhidul Mubhalligin (kader mubaligh Persis),dan anggota Veteran RI. Dari 1966-1986 menjadi TNI/AD yang kedua kalinya dengan pangkat Letnan satu. Sampai akhir hayatnya menjadi guru tetap di Pesantren Persis Pajagalan, Bandung. Kesibukannya di tentara (Bintal Dam III Siliwangi) tidak membuat Ustadz Andi berhenti aktif di lembaga lain. Tahun 1966-1967 menjadi ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) kecamatan Andir, 1967-11978 anggota MUI kota Bandung, dan tahun berikutnya menjadi ketua MUI kec. Bandung kulon. Hasil Musda MUI Kodya Bandung periode 1968/1990.

Dalam mengerjakan ibadah haji tahun 1984 saat sistem muassasah (tanpa melalui syekh) diakuinya, ibarat tentara yang diterjunkan ke medan perang yang tidak diketahui sebelumnya, kalau tidak dihadapi dengan penuh keberanian,kesungguhan hati dan pelaksanaan ibadah semata-mata mengharap rido Alloh, tidak sedikit yang mengerjakan ibadah haji tidak mengikuti ketentuan yang telah dicontohkan oleh Rasullulah.dengan demikian pelaksanaan ibadah hajinya jauh dari apa yang disebut haji mabrur, bahkan bisa jadi ibadah hajinya batal. Syetan dalam mengerjakan ibadah haji sering tampak “bungkeuleukan” muncul di depan mata.

Keluarga beliau adalah keluarga mubaligh, mulai dari beliau sendiri, istrinya (ibu Ustadzah Rokayah Syarif) dan di antara putra-putrinya yang berjumlah 11 orang menjadi mubaligh ditambah 5 orang menantunya yang rata-rata termasuk aktifis Majlis Ulama. “Apapun pekerjaannya, jadi mubaligh jangan di tinggalkan”. Itulah prinsip beliau. KH. Muh Syarif Sukandi termasuk keluarga besar. Ketika beliau wafat, 31 juli 1997, beliau meninggalkan seorang istri, sebelas anak, dan 28 cucu. Kini cucunya telah berkembang menjadi 34 orang ditambahcicit 4 orang.

Diakuinya, meski banyak kegiatan di luar, tidak melupakan keluarga. Seminggu sekali secara rutin diadakan pengajian keluarga di rumahnya di jalan Holis 28/81, kel. Cibuntu. Rumahnyabahkan dibafi dua dengan Madrasah “Al-Quran”. Hal itu dimaksudkan sebagai pembinaan terhadap keluarga menjadi sebulan sekali, tempatnya bergiliran diantara 11 putra-putrinya. Dalam pengajian keluarga, disamping membahas pelajaran agama dan masalah kemasyarakatan juga diskusi dan pemecahan masalah rumah tangga/keluarga. Di ruang tamu rumahnya tertampang tulisan yang cukup besaar dari triplek berwarna kuning Imah Kuring (rumahku surgaku). Tulisan itu terjemahan dari hadits Nabi saw. :Baiti Jannati. Sengaja tulisan itu di pampangkan di dalam rumah, sebagai peringatan (dzikroh) bagi keluarga, agar di rumah tidak ada yang murung, marah atau caci maki. “tidak pantas di surga ada yang murung,” katanya.

Beliau berpegang pada fiman Allah : “famal hayatuddun-ya illa la’ibun walahwun” (kehidupan dunia ini tiada lain hanyalah permainan dan sendau gurau belaka) “pasang surut permainan laut, panas dingin permainan hari, susah senang permainan hidup. Mengapa harus murung dalam bermain. Ikutilah peraturan permainan itu supaya senang”. Demikianlah kata kyai yang senang humor ini. “Apakah keluarga Bapak tidak boleh menangis? Beliau menjawab : “Di hadapan manusia usahakan terseenyum dan tertawa, tetapi di kala menghadap Allah (shalat, dzikir, atau berdo’a) menangislah sepuas-puasnya. Tangisilah dosa-dosa yang telah di perbuat, mohon ampunlah kepadaNya dan bertobatlah dengan derai aiar mata. Seperti halnyaa Nabi Adam dan Hawa bila bertobat mereka sambil menangis, demikian pula Nabi Muhammad saw. Sering menangis di kala beliau sedang shalat.

Bulan April 1986 beliau pensiun dari dinas tentara, mengomentari hal itu beliau menegaskan : “bebas tugas itu dari tentara, tetapi dari mubaligh atau juru dakwak tidak ada istilah bebas tugas, dan bila Allah mengingiinkan saya ingin menyusun buku lagi sebelum meninggal”. Kini Haji Muh. Syarif Sukandi telah tiada. Beliau wafat pada 31 juli 1997 di rumahnya, sekira pukul 12 malam, dihadapan istri dan salah seorang putrinya, Ny Lie Armanusah.


(Akhbar Jam’iyyah, No.13 TH. V Juli-Agustus, 2005).