Tampilkan postingan dengan label Al-Qudwah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Al-Qudwah. Tampilkan semua postingan

Selasa, 17 September 2019

Persatuan Islam Dalam Peta Sastra Indonesia


 Aldy Istanzia Wiguna


PERSATUAN ISLAM DAN BAHASA INDONESIA

Dalam perjalanan usianya yang nyaris mencapai satu abad ini. Persatuan Islam telah memberikan banyak kontribusi dalam perjalanan sejarah republik. Salah satu yang terkenang dan sering terluputkan adalah kontribusi Persatuan Islam dalam bidang bahasa khususnya dalam penggunaan bahasa Indonesia (bahasa Melayu) pada medio awal kehadirannya.

Hal ini terungkap dari bahasa yang dipilih para founding father Persis pada tahun 1923 ketika pertama kali mendirikan Persis. Dimana para founding father ini justru memberi nama organisasi yang didirikannya dengan menggunakan bahasa Melayu bukan dengan bahasa Arab seperti Muhammadiyah, Nahdlatul Ulama, Sarekat Islam, Jam’iyyatul Khair, Al-Irsyad, Mathlaul Anwar dll.

SASTRA DALAM RAHIM PERSATUAN ISLAM

Bila menilik pada perjalanan intelektualnya. Dakwah Persatuan Islam tidak hanya didominasi oleh perdebatan-perdebatan saja. Melainkan menyentuh pula dakwah budaya. Hal ini terlihat dari hadirnya beberapa sajak yang dipublikasikan di majalah Pembela Islam yang merupakan majalah tertua di Persatuan Islam. Sajak pertama yang dipublikasikan di majalah tersebut berjudul ‘Sadarlah’ yang ditulis seorang penulis bernama Nasbiroe. Sebuah sajak yang menyeru kepada sekalian kaum muslimin di Nusantara untuk bersikap terhadap persoalan agama yang saat itu dilecehkan oleh kaum sekuler melalui media massanya yakni Djawa Hisworo.

Selain itu, masih di majalah Pembela Islam pula ditemukan sajak yang ditulis oleh Buya Hamka dalam rangka mengenang perjuangan seorang Umar Mukhtar, pejuang muslim dari Afrika.

Selain sajak, pada tahun 1930-an pula terbit roman perdana bapak Mohammad Natsir yang berjudul ‘Salah Jalan’.

Lalu sekitar tahun 1950-an guru utama Persatuan Islam yakni Ahmad Hassan menerbitkan kumpulan sajaknya sebanyak dua jilid yang diberi judul ‘Sjair’ dan kumpulan pepatahnya yang dipublikasikan melalui majalah Pembela Islam dengan judul ‘Kitab Pepatah’ sebanyak dua jilid. Selain menulis Sjair, Ahmad Hassan pun tercatat menulis kumpulan cerita pendek yang diberi judul Tertawa sebanyak empat jilid dan kumpulan nasihat sebanyak 4 jilid pula yang diberi judul Hai Puteraku, Hai Puteriku, Hai Cucuku, dan Hai Anakku.

Selain itu, konsepsi dakwah melalui kebudayaan di Persatuan Islam rupanya telah dirumuskan oleh KH M Isa Anshary yang mana rumusan tersebut disempurnakan oleh Pak Natsir dalam bukunya yang berjudul ‘Capita Selecta’.

Melihat sekilas perjalanan sejarah tersebut menarik bila disimpulkan bahwa dakwah melalui kebudayaan khususnya sastra telah mengakar kuat dalam perjalanan sejarah Persatuan Islam.

GENEALOGI ULAMA BUDAYAWAN PERSIS

Bila ditelusuri lebih jauh, untuk genealogi ulama budayawan di Persatuan Islam bermuara pada dua titik yakni genealogi Bandung yang diwakili oleh Ust Abdurrahman dan genealogi Bangil yang diwakili oleh Ust Abdul Qadir Hassan. Kedua genealogi ini tersambung secara langsung kepada Ahmad Hassan sebagai guru utama. Dari kedua sosok ini, lahirlah banyak ulama dan intelektual Persatuan Islam yang menyusun karya budaya baik karya sastra maupun karya lainnya. Adapun dari genealogi Bandung atau murid-murid Ustadz Abdurrahman yang tercatat menulis karya sastra adalah E Abdullah, E Saifuddin Anshary (putera Pak Isa Anshary), Maman Nurzaman Romly, Utsman Sholehuddin, Suraedi, Syarief Sukandy, Wawan Shafwan Sholehuddin, Enung Nurhayati dan Rudi Rusyana. Adapun dari genealogi Bangil atau murid-murid Ust Abdul Qadir Hassan yang menulis karya sastra antara lain Abidah El Khalieqy dan Ahmad David Khalilurrahman.

Genealogi Ulama Budayawan Persatuan Islam

Kamis, 20 Desember 2018

Sastra di Media Massa Persatuan Islam


Aldy Istanzia Wiguna

(Majalah Pembela Islam edisi 14 yang memuat sajak Sadarlah karangan Pak Nasbiroe)


MEDIA MASSA PERSATUAN ISLAM

Persatuan Islam sebagai organisasi massa Islam didirikan pada tanggal 12 September 1923 di kota Bandung. Berawal dari kenduri yang biasa dilakukan oleh para pedagang asal Palembang yang dimotori oleh Haji Zamzam dan Haji Muhammad Yunus. Pergerakan organisasi Persatuan Islam mulai mendapatkan perhatian masyarakat pada tahun 1926 ketika Ahmad Hassan seorang laki-laki dari Singapura yang tengah belajar tenun masuk dan menjadi anggota Persatuan Islam. Lewat tangan dingin Ahmad Hassan inilah, kelak Persatuan Islam dapat mengeluarkan tajinya sebagai organisasi massa yang teguh dan kukuh memberantas persoalan bid’ah, khurafat dan takhayul melalui perdebatan baik di media massa maupun secara langsung. Dalam perjalanan sejarahnya, kita bisa mencatat bahwasannya Persatuan Islam memiliki beberapa media massa yang cukup berpengaruh pada massa itu seperti majalah Pembela Islam (1929), Al-Fatwa (1931), Al-Lisaan (1932), At-Taqwa (1930), Aliran Islam (1948), Al-Muslimun (1954), Himayatul Islam (1956), Hujjatul Islam (1956), dan Risalah (1962).

SAJAK ‘SADARLAH’ DI MAJALAH PEMBELA ISLAM

Di edisi ke 14 majalah Pembela Islam terdapat satu rubrik istimewa yang isinya adalah sebuah sajak yang dikirim seseorang bernama Nasbiroe. Sajak tersebut berjudul Sadarlah. Sebuah sajak yang mengisahkan tentang penghinaan terhadap agama Islam yang dilakukan oleh gerakan-gerakan anti Islam di masa kolonialisme. Seperti Budi Utomo, Siti Soemandari dan sebagainya. Sajak yang memiliki pola syair ini ditujukan kepada segenap kaum muslimin untuk membangkitkan ghirah mereka dalam memperjuangkan dinul Islam. Sajak ini sarat dengan nilai-nilai patriotik juga kesadaran khas kaum modernis dalam memperjuangkan izzul Islam wal muslimin. Sajak ini bisa jadi sebuah pijakan awal untuk menelusuri jejak kebudayaan terkhusus kesusastraan awal dalam perjalanan Persatuan Islam. Meski penulis sajak ini masih dipertanyakan, sajak ini tetap memberikan gambaran sederhana tentang rubrik kebudayaan dalam majalah tertua di Persatuan Islam ini.

RUBRIK HIKAYAT DI MAJALAH QUDWAH

Majalah Qudwah merupakan majalah yang dikelola secara mandiri oleh kader-kader Persatuan Islam. Majalah ini dikelola oleh Ust Utsman Sholehuddin (alm) di bawah Pesantren Tahdzibul Wasiyyah yang dipimpinnya. Majalah ini memiliki ragam rubrik di dalamnya. Seperti rubrik Al-Ihda, Suara Ikhwan, Al-Qur’an (Tafsir, Ayatul Ahkam, Ulumul Qur’an), Al-Fiqh (Fiqh Ibadah dan Fiqh Muamalah), Al-Masail (yang diisi Majelis Muthalaah Dewan Asatidz Tahdzibul Washiyyah), Al-Hadits (Syahrul Hadits, Hadits Dhoif, Ulumul Hadits), Ta’bir (Hikayat, Al-Amtsal, Fiqhus Shirah, Fadhilus Shahabah), Mimbar Jum’at, Al-Akhlaq, Al-Matsailul Muta’aridhah, dan rubrik Aqidah. Rubrik sastra di majalah Al-Qudwah ini terkenal dengan rubrik Hikayat yang terdapat di dalam rubrik Ta’bir. Rubrik Hikayat ini biasa diisi oleh Ust Utsman Sholehuddin (alm) dengan serial Saur Mama-nya yang terkenal. Belakangan, serial Saur Mama yang termaktub dalam rubrik Hikayat ini dibukukan dalam dua buku serial yang diberi judul Saur Mama (Hikayat Dongeng Basa Sunda).

RUBRIK SILOKA DI MAJALAH DHUHA

Majalah Dhuha merupakan majalah yang dikelola secara mandiri oleh kader-kader Persatuan Islam. Didirikan oleh Yayasan Dhuha dengan ketua H. Domiri Suramiharja majalah berbahasa Sunda ini memiliki ragam rubrik di dalamnya. Seperti rubrik fiqih siyasah, sambung layang, handaru lulurung kalbu, makolah, aqidah, fiqih ibadah, ahlak, fiqhud da’wah, hadis, ghazwul fikri, kingkilaban, siloka, tareh lenyepaneun, sifaf salat Nabi, alam Islami, tafsir dan fiqih muamalah. Pengisi di majalah Dhuha yang paling terkenal adalah kakak beradik yang duduk di Dewan Hisbah PP Persis yakni Ust Utsman Sholehuddin (alm) dan Ust Zae Nandang. Selain mereka berdua ada juga Ust Ikin Sodikin, Ust Deddy Rahman dan Ust Amien Muchtar. Rubrik sastra di majalah Dhuha ini terkenal dengan nama Siloka. Rubrik ini diisi oleh Ust Utsman Sholehuddin (alm) dengan serial Saur Mama-nya dengan Kai Sahamah, Kai Adma, Kai Atam dan Mama Ajengan sebagai tokoh legendarisnya. Selain Ust Utsman Sholehuddin, ada juga Ust Abdurrahim Lutfi yang turut mengisi rubrik siloka ini dengan dongeng atau carpon khasnya juga.

SASTRA DI MEDIA DARING PERSIS

Selain di majalah, geliat sastra pun bisa disimak melalui media daring (online) yang dikelola baik oleh kominfo PP Persis melalui website persis.or,id dengan menurunkan sajak karangan Ali Muhtadin, alumnus Pesantren Persis Bangil. Selain, di website resmi, beberapa website yang dikelola oleh kader Persatuan Islam seperti website sigabah yang dikelola oleh Ustadz Amien Muchtar (anggota Dewan Hisbah PP Persis) beserta murid-muridnya ini pun menurunkan satu rubrik khusus terkait sastra. Rubrik tersebut pada awalnya dikelola oleh Hilman Indrawan, penggagas komunitas menulis Madrasah Pena. Di rubrik tersebut tercatat beberapa kader muda Persatuan Islam pernah mempublikasikan karya sastranya baik cerita pendek, puisi maupun essay sastra seperti Muslim Nugraha, M Ridwan Nurrohman, Hilman Indrawan dan saya sendiri. Tak hanya di persis.or.id atau sigabah, rubrik sastra pun bisa ditemui di website savana post. Sebuah website yang dikelola oleh kawan-kawan muda dari STAI Persis Bandung yang dimotori oleh Ridwan Rustandi, Ustadz Rosihan Fahmi dan Nurdin Abdul Aziz.

AKHIRAN

Demikian paparan singkat mengenai jejak kebudayaan (kesusastraan) dalam majalah-majalah yang dikelola di lingkungan Persatuan Islam. Kehadiran rubrik sastra di beberapa media baik cetak maupun daring ini membuktikan bahwa kesusastraan bisa menjadi semacam alternatif dakwah untuk menyampaikan pesan-pesan Ilahiyah berdasarkan tuntunan Qur’an dan Sunnah. Kehadiran karya-karya sastra ini paling tidak bisa mematahkan anggapan terkait Persatuan Islam yang antipati terhadap bidang kebudayaan. Dan semoga kehadiran rubrik-rubrik kesusastraan dalam media massa baik cetak maupun daring yang dikelola oleh jam’iyyah maupun kader-kader Persatuan Islam bisa dijadikan sebagai landasan dalam menghadapi tantangan dakwah di era global demi mewujudkan visi misi Persatuan Islam yang sasora, sausaha, sarasa dan sapamikiran dalam memperjuangkan izzul Islam wal muslimin. Wallahu a’lam bish shawwab.****

Daftar Pustaka :

  • Majalah Pembela Islam edisi 14
  • Majalah Al-Qudwah
  • Majalah Dhuha

Mengurai Makna Saur Mama anggitan KH. Utsman Sholehuddin

Aldy Istanzia Wiguna


http://kidnapper-bn.blogspot.com/2009/10/mama-ajengan-kai-adma-kai-atam-dan-kai_27.html



Panggung Sastra Religi di Nusantara

Dalam bukunya yang berjudul ‘Ikhtisar Sejarah Sastra Indonesia’, Ajip Rosidi menyebutkan bahwa kemunculan sastrawan-sastrawati yang mengusung reformis Islam diawali dengan angkatan Balai Pustaka melalui karya-karya Hamka. Berlanjut pada masa Pujangga Baru dengan munculnya beberapa penyair yang mengusung tema-tema keagamaan seperti Sanusi Pane, Amrijn Pane, J.E. Tatengkeng hingga di masa 1945, 1953 sampai 1966 dengan Taufiq Ismail sebagai salah satu pioneer-nya. Sementara pada masa 1970-an sampai saat ini muncul sastrawan-sastrawan lain yang mengusung tema serupa baik dalam penulisan puisi, prosa maupun drama. Beberapa pengarang ini memiliki catatan-catatan khas dalam pusaran-pusaran ide religiusnya. Dimulai dari KH. Mustofa Bisri, D Zawawi Imron, sampai yang mutakhir Helvy Tiana Rosa dan Habiburrahman El-Shirazy.

Keseluruhan karya sastrawan-sastrawati tersebut banyak mengungkapkan persoalan-persoalan keagamaan baik persoalan secara personal maupun persoalan di masyarakat. Bahkan salah satu novel berjudul ‘Kambing dan Hujan’ buah karya Machfud Ikhwan yang menjadi salah satu pemenang sayembara penulisan novel di Dewan Kesenian Jakarta justru mengangkat cerita lain yakni tentang konflik yang biasa terjadi antara dua organisasi masa Islam terbesar di Nusantara yakni Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama. Cerita-cerita tadi setidaknya memberikan gambaran bahwa geliat kesusastraan religius di negeri ini berkembang demikian pesat. Tidak lagi terkungkung dengan aturan-aturan pelik, namun justru sudah mulai menyentuh persoalan-persoalan yang seringkali dianggap tabu dalam perjalanan masyarakat Nusantara. Dobrakan demi dobrakan terus dilakukan hingga karya-karya tersebut tampil dengan begitu menyegarkan. Mulai dari sajak-sajak Sanusi Pane, Amrijn Pane, J.E Tatengkeng, hingga Taufiq Ismail. Karya-karya tersebut tidak hanya lahir dalam bentuk sajak secara murni, melainkan juga lahir dalam bentuk-bentuk lain seperti prosa, drama dan lain sebagainya. Bahkan seorang Hans Bague Jassin atau yang akrab kita kenal HB Jassin, sang paus sastra Indonesia justru menulis terjemah Al-Qur’an dalam bentuk sajak. Hal ini menunjukkan bahwasannya karya sastra mulai bisa dinikmati dengan begitu lenturnya tanpa ada sekat apapun juga termasuk ikatan-ikat atau aturan dalam periode Melayu.

Ulama Persis, Sastra dan Dakwah

Dalam perjalanan sejarahnya yang membentang sepanjang sembilan puluh empat tahun lamanya, paling tidak dalam catatan sejarah ada empat nama ulama Persis yang mencoba menulis karya sastra. Empat nama tersebut diantaranya Ahmad Hassan, Endang Saifuddin Anshary, Maman Nurzaman Romli dan Utsman Sholehuddin. Keempat-empatnya paling tidak tercatat menulis karya sastra dalam bentuk sajak dan prosa. Seperti Ahmad Hassan melalui empat jilid Syair-nya. Endang Saifuddin Anshary melalui sajak-sajaknya yang tersebar di media massa dalam medio tahun 1950-1960-an. Utsman Sholehuddin melalui dua jilid kumpulan dongengnya yang diberi judul Saur Mama yang terhimpun dari dongeng-dongeng yang ditulisnya di majalah Al-Qudwah dan majalah Iber yang dipimpinnya bersama E. Abdullah kawannya. Sebaran ulama ini paling tidak menunjukkan bahwa tradisi penulisan sastra di Persis sudah berlangsung demikian kuat. Adapun keunikannya, penulisan-penulisan karya sastra tersebut justru menjadi demikian intens dilakukan semenjak kepulangan Ahmad Hassan di tahun 1953.

Adapun ulama yang meneruskan jejak Ahmad Hassan dalam menulis karya sastra itu adalah murid-murid dari muridnya sendiri yakni Endang Abdurrahman. Tercatat dalam beberapa karangan tersiar yang penulis telisik ada beberapa murid Endang Abdurrahman yang konsisten melakukan kegiatan berdakwahnya dengan menulis karya sastra semisal Utsman Sholehuddin, Muhammad Romly, Syarif Sukandi dan lain sebagainya. Bahkan yang paling mutakhir beberapa catatan mengarah kepada Wawan Shofwan, putera Utsman Sholehuddin yang melanjutkan tradisi penulisan karya sastra tersebut sebagai jalan, alat atau media dakwah yang dirasakan cukup mumpuni untuk menyampaikan kaidah-kaidah syari’at yang tertuang dalam Qur’an maupun Sunnah.

‘Saur Mama’, Magnum Opus Utsman Sholehuddin

Secara periodik dalam medio tahun 90-an, seorang ulama Persatuan Islam yang sempat duduk sebagai ketua Dewan Hisbah Pimpinan Pusat Persatuan Islam tercatat cukup aktif menulis dongeng dalam dua majalah Persatuan Islam yakni majalah Iber dan majalah Al-Qudwah. Ulama tersebut adalah Utsman Sholehuddin. Seorang ulama Persatuan Islam yang dikenal cerdik cendekia juga mumpuni dalam bidang ilmu mantiq. Beliau tercatat aktif di Persatuan Islam dan Pemuda Persatuan Islam melalui bimbingan gurunya yakni KH. Endang Abdurrahman. Kecintaannya dan keaktifannya di Persatuan Islam diawali dengan keaktifan ayahnya yang bernama Uya Mulyana yang sering mengikuti kegiatan Ahmad Hassan, sang guru juga ideolog utama Persatuan Islam. Beliau tercatat sebagai seorang ulama yang mencintai dan senang berdakwah. Beliau pula yang memprakarsai dan merintis Tamhidul Muballighiin yang menjadi program unggulan dibawah Bidgar Dakwah di tingkat PC, PD, dan PW. Beliau Perintis Tarbiyyatul Muballighiin yang menjadi cikal bakal Pesantren Tahdzibul Washiyyah yang dawali dengan kajian-kajian dan bahtsul kutub di rumahnya. Beliau menjadi guru, orang tua, dan fartner bagi murid-muridnya dalam mengkaji seluruh persoalan. Kesehariannya tidak lepas dari kajian ilmu. Tentu saja sunnah hasanah yang beliau ajarkan dalam berdiskusi ini bisa menjadi sunnah yang dilakukan oleh murid-muridnya dalam mengkaji masalah, karena dengan berjama’ah ketika membahas satu persoalan akan lebih teruji dan lebih tajam analisisnya ketimbang mengkaji sendirian, dalam mengambil dalail maupun menetapkan hukum. Itulah yang dirasakan oleh murid-muridnya. Beliau pernah menjadi Ketua Bidang Maliyah, Ketua Dewan Hisbah, dan Majlis Penasehat. Beliau wafat pada hari Jum’at tanggal 14 November 2014 di Rumah Sakit Al-Islam, Bandung.

Salah satu karya tulisnya yang menjadi magnum opus di kalangan pembacanya adalah serial Kai Sahamah, Kai Atam dan Kai Adma yang dikumpulkan dalam dua seri kumpulan dongeng berjudul Saur Mama. Dalam jilid pertama tercatat sebanyak dua belas cerita pendek berbahasa Sunda dengan tema cerita yang beragam. Dimulai dari catatan keseharian Mama Ajengan dan para muridnya seperti Kai Atam, Kai Sahamah, dan Kai Adma, lalu catatan tentang pentingnya hidup berjam’iyyah, penegasan kembali khittah berjam’iyyah sampai pembabaran terkait persoalan-persoalan sederhana seperti bid’ah, khurafat dan takhayyul. Selain itu ada beberapa dongeng yang memanggungkan catatan-catatan seputar kesesatan Syi’ah, bablasnya pemikiran liberal, sekuler hingga pluralis. Sampai pula pada pembabaran terkait persoalan-persoalan komunisme yang dengan lihainya disampaikan beliau dalam bangun sebuah cerita jenaka yang sangat-sangat pedas menyindir kepentingan-kepentingan aliran tersebut.

Seperti dalam dongeng beliau yang berjudul ‘Iih, Lain Ditulungan’ yang menceritakan tentang seseorang yang diam saja dan tidak mau bertindak apa-apa ketika merasakan kesulitan. Ia tiba-tiba datang kepada Mama Ajengan untuk meminta nasihat. Dongeng ini diawali dari kisah Kai Sahamah yang ditinggal meninggal oleh istrinya hampir 100 hari. Dimana pada saat itu Kai Sahamah bermaksud untuk mengadakan tahlilan sebagai sarana mengingat kepergian sang istri yang ke 100 hari. Dalam cerita tersebut dikisahkan dengan susah payah Kai Sahamah rela melakukan apapun demi melaksanakan tahlilan ke 100 hari meninggalnya sang istri. Pada pelaksanaannya, ternyata Kai Sahamah menemukan banyak kendala, hingga ia memerlukan seorang kawan curhat untuk menyelesaikan permasalahannya tersebut. Ditemuilah salah satu kawannya yakni Kai Adma yang menyarankan saat itu kepada dirinya untuk menemui Mama Ajengan. Maksud Kai Adma menemui Mama Ajengan adalah agar Kai Sahamah mendapatkan penjelasan terperinci terkait apa yang dilakukannya itu menurut aturan syariat. Hingga pada satu hari, Kai Sahamah dan Kai Adma menemui Mama Ajengan dan menceritakan pengalaman yang baru saja dialami Kai Sahamah terkait pelaksanaan tahlilan 100 hari sang istri. Begitu berhadapan dengan Mama Ajengan, Kai Sahamah yang menceritakan keluh kesahnya itu justru didamprat sang ajengan dengan kalimat yang tidak mungkin bisa disangkal perasaannya yakni ‘Adma, ari jalma mu’min teh kabeh oge dulur maneh eta teh, prak riung mungpulung, ari papanggih jeung anu karasa beurat teh ulah kalah tuluy ngaringkeb maneh, kawas euweuh badamianeun. Jeung deui kapan eunggeus, ku kuring dijentrekeun, entong neukteuk leukeur meulah jantung, eta mah lain tuduh agama urang, anu kitu mah anu layonna tuluy diduruk tea.’ Setidaknya pesan di atas memiliki maksud bahwasannya orang yang melaksanakan ritual seperti tahlilan dan sebagainya tidak lebih seperti seseorang yang menyerupai kebiasaan suatu kaum. Dimana biasanya upacara memperingati orang meninggal itu ada dalam tradisi Hindu hingga sesuai dengan sabda Nabi yang berbunyi man tasyabbaha biqaumin fahuwa minhum (Barang siapa yang menyerupai suatu kaum, maka ia merupakan bagian dari kaum tersebut).

Selain membabar persoalan-persoalan terkait larangan melaksanakan hal-hal seperti itu. Kumpulan dongeng ini pun banyak menyorot atau mengetengahkan perenungan-perenungan sederhana antara hubungan manusia dengan pencipta-Nya, hubungan manusia dengan alam, juga hubungan manusia dengan manusia. Paling tidak, Saur Mama sudah memberikan sebuah gambaran tentang penyampaian konsepsi sastra hikmah yang disampaikan dengan demikian apik tanpa melepaskan hal-hal yang terkandung dalam gagasan sastra hikmah itu sendiri. Wallahu a’lam bish shawab.

Daftar Bacaan :

  • Ajip Rosidi, Ikhtisar Sejarah Sastra Indonesia, Bandung : Pustaka Jaya, 2013 
  • Usman Sholehuddin, Saur Mama, Hikayat Dongeng Sunda, tanpa tahun. tanpa penerbit